Dialog Sepi Dalam Keriuhan

Merantau itu gampang. Siapkan saja bekal perjalanan dan hiduplah di suatu tempat selama sekian waktu. Tapi sebelumnya jangan lupa untuk pamit. Karena yang membedakan seorang perantau dengan pelarian adalah pamit. Peranatu melakukannya.

Jadi apa sulitnya merantau?
“Tak bisa pulang saat rindu sudah diubun-ubun khususnya ketika momen hari raya tiba.” dalam hati saya sewaktu berjalan pelan di dermaga beton pelabuhan Sofifi. Menuju ke kapal roro yang bersandar menanti penumpang. Jam dua siang kapal roro yang bernama “KM Bandeng” ini berangkat. Masyarakat lokal biasa menyebut kapal roro, sejenis kapal yang bisa memuat kendaraan dilambung kapal, dengan sebutan “feri”. Siang ini feri Bandeng sesak dengan manusia segala usia di dek penumpang dan kendaraan roda dua dan empat di dek bawah. Tujuannya cuma satu. Pulang merayakan Idul Adha di pulau Tidore bersama keluarga.
Kecuali saya.
Laju feri siang ini agak kencang. Mungkin kapten dan para anak buahnya ingin kapal cepat bersandar di Tidore untuk kembali mengisi muatan dan balik ke Sofifi lantas kembali ke Ternate dengan lambung kapal yang juga penuh dengan muatan. Saya duduk di kelas ekonomi bersama beberapa orang teman sekerja dan puluhan orang lainnya. Feri ini menawarkan dua macam kelas bagi para penumpang. Kelas ekonomi dan VIP yang hanya dibedakan beberapa ribu rupiah saja yang kelebihan biaya itu ditarik diatas feri bukan di loket.
Kelas VIP menawarkan kenyamanan berupa ruang berAC dan tempat duduk empuk yang bisa diatur sandarannya sesuka hati. Saya lebih suka duduk dikelas ekonomi dengan bangkunya yang keras tanpa lapisan busa. Membiarkan angin laut lalu lalang mempermainkan jilbab saya  sambil memperhatikan susana sekitar. Gelak tawa, tangis bocah, suara percakapan yang timbul tenggelam, aroma kuah bakso yang sesekali tercium, suatu perpaduan sempurna siang ini. Pulau Filonga, pulau kecil tak berpenghuni di dekat pulau Tidore sudah kelihatan. Simbol tak resmi jika Pulau Tidore sudah semakin dekat.
Pantai terlihat menampilkan pasir putih dengan pohon kelapa yang sesekali bergoyang tertiup angin. ABK standby di posisi masing-masing. “Peluit” khas kapal dibunyikan. Kapal merapat di pelabuhan Dowora. Perjalanan selama satu setengah jam pun usai. Manusia dan kendaraan silih berganti keluar dari lambung kapal. Saling bergantian memberi kesempatan satu sama lain.
Di darat suasana semakin ramai. Penumpang tujuan Sofifi sudah gelisah ingin cepat-cepat naik ke atas feri. Para tukang ojek, supir bentor (becak motor), dan supir angkot bersaing menawarkan jasa. Beberapa dari mereka tampak santai menunggu diluar pintu keluar pelabuhan. Yakin jika mereka juga akan mendapatkan penumpang meski tak masuk kedalam pelabuhan. Sedikit sentakan rasa iri saya rasakan ketika memandangi para penjemput yang menunggu keluarga mereka. Bercengkrama. Berbagi cerita. Menyusun rencana.
Teman-teman seperjalanan saya sudah menghilang. Masing-masing sibuk memilih angkutan atau menunggu dijemput keluarga. Kaki saya tidak mantap saat melangkah menuju pintu keluar pelabuhan. Seorang nyong (pemuda) tersenyum ramah menawarkan jasanya. Bahkan diatas bentor pun kaki ini masih terasa lemah. Sementara keringat dingin mulai menuruni punggung. Detak jantung pun semakin cepat. Tak sebanding dengan laju bentor. Ini pertama kalinya saya merayakan Idul Adha bersama orang-orang yang belum saya kenal. Dengan tipe introvert sulit bagi saya untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin pertemanan.
Bentor berhenti di depan rumah dinas puskesmas Soasio. Pintunya terbuka seolah memang menunggu kedatangan saya. Tak mungkin saya meminta bentor untuk berbalik arah dan kembali ke Pelabuhan Dowora. Mau tidak mau saya harus turun dan masuk ke rumah dinas. Disinilah saya akan melewatkan Idul Adha tahun ini.

I can be surrounded by a sea of people
and still feel all alone…
Then I think of you..
(Austin Ames – A Cinderella Story)

@ Halmahera 15062013
Mengenang Idul Adha di Pulau Tidore, 26102012

Ucapan Hari Raya Idul Fitri 1434H & pesan dari BBI (Blogger Buku Indonesia)

Agak terlambat membaca pesan dari Koordinator Umum BBI ini karena terjadi masalah pada akun Gmail saya. Tapi sebagai anggota BBI tak ada salahnya juga untuk menyebarkan pesan ini.

Iya ‘kan? 😉

AkuBuku

Man teman ini ucapan Hari Raya Idul Fitri 1434H dan pesan dari Korum (Koordinator Umum)  Blogger Buku Indonesia (BBI) 2013 Sdr, Helvry Sinaga yang saya copy paste dari milis BBI.

###

Dear member Blogger Buku Indonesia,
Semoga kita dirahmati berkat dan kesehatan.

Sebagai insan pembaca di dunia perbukuan Indonesia, kita memiliki peran strategis menyebarluaskan penting dan perlunya membaca pada semua orang. Saat ini teman-teman paling tidak mengelola satu blog yang pada dasarnya bertujuan untuk membagikan pengalaman apa yang kita dapatkan dari kegiatan membaca. Tentu suatu hal yang sangat menyenangkan mana kala kita berhasil menyelesaikan sebuah bacaan, menulis pengalaman membaca tersebut, serta mempostingnya di blog. Dan suatu kebahagiaan tersendiri bila pengunjung blog kita ikut/tertarik membaca buku itu.

Orang Bijak bilang (maaf saya lupa siapa namanya) mengatakan bahwa sebuah perjalanan besar selalu dimulai satu langkah kecil. Pernyataan ini bermakna bahwa tidak ada suatu hal besar yang dapat kita peroleh tanpa usaha kecil…

View original post 474 more words

Take A Bow

Gambar

There are so many words bottled up inside

The scream out to be released

You’ve cast a spell over me

Been blinded for long, but can now see

 

You’re the only thing that matters in my life

All that I’ve done is for you

The biggest piece, the biggest part

The one who controls my heart

 

If I could kiss away your pain, I would

If I could hold you every tight, I would

If I could erase every mistake, every other face

I would’nt change a thing

Because all those things led me to this place

And you

 

Because I… I could never break your heart

I wouldn’t know where to start

All I know to be true

Is the only breaking will be done for you

 

If I could make you smile all day, I would

If I could be the person you want, I would

If I could erase every mistake, every other face

I wouldn’t change a thing

Because all those things led me to this place

And you

 

Because I… I could never break your heart

I wouldn’t know where to start

All I know to be true

Is the only breaking will be done by you

 

Take A Bow – Elizabeth Eulberg

Mereka yang Tersembunyi

Sejak lama saya tuntas membaca Indonesia Mengajar dan Indonesia Mengajar 2, dimana para Pengajar Muda itu banyak menuturkan cerita tentang anak-anak yang selama ini dicap nakal, bodoh dan segudang cap negatif lainnya ternyata memiliki bakat terpendam. Bahkan tak sedikit dari anak-anak itu yang berprestasi membawa nama sekolah dan daerah mereka.

Penasaran, saya mulai membaca cerita para Pengajar Muda di blog Indonesia Mengajar. Dan.. saya terhenyak.  Seperti kata pepatah “from zero to hero” itulah mereka. Ada yang berhasil menjadi duta di Konfrensi Anak Nasional. Bahkan Arman siswa dari SDN 018 Tanah Grogrot Kabupaten Paser Kalimantan Timur berhasil menjadi salah satu pemenang Kalbe Junior Scientist Award 2012 dan berhak mendapatkan kesempatan untuk ke Singapura. Ia, anak dari desa yang belum dapat aliran listrik dan minim fasilitas, berhasil mengalahkan anak-anak kota yang notabene bergelimpangan segala kemudahan untuk mendapatkan akses belajar. Tidak percaya? Ada cerita tentangnya disini dan disini.

Dan kemarin malam (kalau tidak salah),  saat sedang bermain-main di dunia twitter, saya membaca beberapa twit dari @pengajarmuda yang mengabarkan jika seorang murid salah satu Pengajar Muda berhasil menjadi Runner Up di National Geographic International Photo Contest for Kids 2012. Serta seorang murid lainnya dari Pengajar Muda yang sama berhasil meraih salah satu dari empat juara nasional di kompetisi yang sama.

Rasa penasaran saya kumat. Sekeren, secanggih apa sih foto-foto itu sehingga layak menjadi juara nasional dan internasional? Mulailah saya bergerilya mencari kabar beritanya dengan bertanya pada mbah Google. Jawaban mbah Google mengajarkan saya pada timeline facebook Indonesia Mengajar dan National Geograhic Kids Indonesia.

Adalah Diana Poae di SD GMIST Smirna Kawio, Sangihe, Sulawesi Utara yang berhasil meraih juara Runner Up itu lewat foto bintang laut di dalam botol yang diabadikannya saat bermain di Pantai Raja. Sementara Ebenhezer Lumeling, siswa di SD yang sama meraih juara nasional berhasil mengabadikan sinar matahari yang menyelinap disela-sela daun pohon kelapa dengan latar langit Kawio yang cerah.

Gambar

hasil jepretan tangan Diana Poae, diambil dari Album Belajar dari Pantai Raja milik Ertina Priska Erlayas Sebayang

Gambar

hasil jepretan tangan Ebenhezer, diambil dari Timeline Photos Indonesia Mengajar

 

Membaca cerita sang encik alias guru mereka, Ertina Priska Erlayas Sebayang, di blog pribadinya di Indonesia Mengajar saya hanya bisa terdiam dan kagum pada kedua anak tersebut dan beberapa anak lainnya. Mereka tak pernah mengenal kamera. Dan baru melihat benda tersebut setelah sang encik membawanya. Kamera yang digunakan pun “hanya” kamera saku digital. Tapi gambar-gambar yang mereka hasilkan yang kemudian dirangkum sang encik dalam album bertajuk “Jepretan Jemari Jagoan” cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya percaya mereka adalah anak-anak dengan bakat alam yang bakal jadi orang-orang hebat di masa depan.

Mereka-mereka, mutiara Indonesia yang terpendam diantara debur ombak, semak belukar, puncak-puncak gunung yang tinggi, hutan-hutan lebat, dan pulau-pulau yang bahkan tak masuk peta nasional yang biasa kita liat di pasaran. Mereka seharusnya membuat kita bertanya “Apa yang sudah kita berikan untuk ibu pertiwi? Sebuah kerja keras? Atau rentetan kutukan dan hujatan?”

Karena mengutuk, menghujat, memaki, dan menyalahkan tidak pernah menyelesaikan masalah apa pun.

Halmahera,  16022013 19:10 WIT

I’m So Sorry

Dear blog wordpress-ku tersayang….

Maaf yah…

Aku tahu… Selama ini aku memang sudah mengacuhkanmu…

Banyak laba-laba berkeliaran di rumahmu sekarang…

Debu nggak usah tanya lagi banyaknya…

Aku janji aku nggak bakal nyari pembelaan karena udah mengacuhkanmu

Kalau pun seandainya pembelaan itu ada, aku cuma bilang ini semua hanya disebabkan oleh koneksi modem yang tak pernah bisa bersahabat sama kamu

Please… kamu jangan marah ya??? Juga jangan cemburu sama dia si lemari bukuku

Walaupun dia lebih sering ku-apelin, percaya deh…

Aku tuh masih setia seratus seribu sejuta semilyar persen sama kamu…

*peluk erat-erat* *lalu bersin*