Seduction in Death

 

Judul : Seduction in Death

Judul Saduran : Rayuan dalam Kematian

Pengarang : J.D. Robb

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 520 halaman

Serial : In Death #13

Kategori : Romantic Suspense

ISBN : 9789792279153

“Kau mengubah diriku, Eve.  Aku bersyukur pada Tuhan atas dirimu.” (Roarke – p. 479)

Advertisements

Analisis The Wind in the Willows

#BacaBareng Maret 2012 yang diadakan oleh Blogger Buku Indonesia, salahsatunya bertema anak-anak. Dan pilhan saya jatuh pada The Winds in the Willows. Untuk lebih memahami jalan cerita, Komunitas Baca Klasik membuat beberapa pertanyaan yang dijawab melalui notes fb. Berhubung saya mengalami kegagalan berulang kali sewaktu mencoba memposting jawaban, maka saya putuskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu di blog ini saja. Continue reading

Indonesia Mengajar – Pengajar Muda

Judul : Indonesia Mengajar – Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

Pengarang : Pengajar Muda

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 322 halaman

Kategori : Motivasi Diri

“Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. ” (Indonesia Mengajar – p. 294)

Sinopsis

Ini negeri besar dan akan lebih besar . Mengeluh dan mengecam tidak akan mengubah sesuatu. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu, Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.

Pendidikan, masih saja menjadi barang mahal di tanah saudara-saudara kita yang jauh dari pusat. Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang kurang memadai, jarak yang jauh dan terjal, kurangnya tenaga pengajar, dan masalah-masalah lain masih saja terjadi.

Lalu, bagaimana ceritanya kalau anak-anak muda, generasi penerus bangsa ini tergerak hatinya. Mereka adalah 51 Pengajar Muda yang terpilih dari 1.383 calon. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kota dan jauh dari keluarga untuk mengabdi di pedalaman, sebagai guru. Mereka berusaha melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar mengajar baca tulis hitung, mereka juga mengajar banyak nilai-nilai kebaikan, pun gantian belajar pada masyarakat asli.

Buku ini menceritakan kisah para Pengajar Muda yang ditempatkan di beberapa pelosok negeri. Kesulitan, kebahagian, tangis, dan tawa mewarnai kisah mereka. Buku ini juga menunjukkan seperti apa wajah pendidikan negeri ini. Apa benar ada kebiasaan guru memukul muridnya dengan rotan? Apa benar guru-guru jarang datang ke sekolah, terutama saat hujan deras?

Nikmati seluruh kisah mengharukan itu di buku ini! Continue reading

Nasional.is.me

“Anda hidup di zaman ini karena Anda ditakdirkan untuk berkarya dan membangun Indonesia menjadi lebih baik. :D” (Pandji – halaman 330)

Ya…. saya akui…. saya orangnya memang telatan… Bukan telaten…  😀 Dan ketelatan kali ini kembali berhubungan dengan masalah buku. Lewat twitternya @bentangpustaka, saya baru tahu kalau ada buku yang berjudul Nasional.is.me karangan Pandji…. Hahaha…. Parah banget yah saya….

Awwalnya saya pikir buku ini hanya berisi tentang kisah perjalanan mas Pandji ke beberapa kota di Indonesia. Karena, dari beberapa RT @bentangpustaka, banyak yang berkata pengen ke kota-kota yang pernah disinggahi oleh mas Pandji.  Awalnya saya kurang berminat membaca buku ini, namun setelah membaca halaman ke empat, saya nggak bisa berhenti buat menghabiskan buku itu secepatnya, yang memang pada akhirnya saya selesaikan dalam waktu dua jam dan diakhiri oleh pertanyaan kepada diri sendiri “apa yang sudah aku berikan untuk negara ini?” *jiah……… nasionalismenya nggak kuat ah* 🙂

Tapi ternyata buku ini lebih dari sekedar itu. Yang paling menarik buat saya adalah cara penceritaan dalam buku ini. Mas Pandji mengawali kisah di setiap babnya dengan cerita tentang dirinya yang kemudian perlahan-lahan menarik cerita tersebut ke ranah renungan akan setiap tindakan atau kejadian. Belum lagi penggambaran mas Pandji tentang kota-kota yang pernah dikunjunginya, saya yakin membuat siapa pun yang membaca buku ini, akan ingin bertandang ke kota tersebut.

 Intinya buku ini mengajak kita untuk kembali memalingkan wajah ke negara kita tercinta ini, Indonesia. Meskipun wajah negeri ini lebih penuh dengan carut-marut daripada senyum yang terkembang. Mengingatkan kita, bahwa ada banyak orang hebat yang ada di negeri ini yang peduli dan bangga pada negeri ini,  mematahkan anggapan bahwa negeri ini hanya berisi orang bodoh saja. Mengingatkan kita, ada banyak cara untuk merobah negeri ini ke arah yang lebih baik, walaupun hanya sebuah langkah kecil yang terkadang terkesan tak berarti. Contohnya??? Yang paling gampang, buang sampah pada tempatnya, donor darah, jadi sukarelawan. 😀 Hey…. bukankah setiap langkah besar selalu didahului oleh sebuah langkah kecil.

Buku ini pun ditutup manis dengan tiga hal yang akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang hebat : yaitu

  1. kenali Indonesiamu
  2. temukan passion-mu
  3. berkaryalah untuk masa depan bangsamu.

Bagi saya buku ini wajib untuk dibaca. Karena buku ini dengan ringan mengangkat tema nasionalisme yang sering terkesan berat dan hanya dapat dibicarakan di forum-forum tertentu menjadi bahasan padat, ringkas, jelas, namun mampu menimbulkan kembali semangat kebangsaan yang sempat luntur.

Lover Eternal (Kekasih Abadi)

 

 

Tak ada yang takkan kulakukan untuk wanita itu, tak ada yang takkan kukorbankan.” (Rhage – halaman 576)

Seperti yang pernah saya ungkapkan, saya tidak suka membeli buku saat buku tersebut sedang banyak dibicarakan orang. Sebenarnya saya sudah tahu tentang Black Dagged Brotherhood dari rencana penerbitan buku oleh Gramedia di situs “muka buku”. Tapi saat itu saya hanya merasa ini buku biasa tentang kehidupan vampir. Yah… mungkin bakalan nggak jauh beda dengan Twilight, soalnya kan sama-sama tentang vampir.

Menjelang akhir Ramadhan kemarin, saya dan seorang teman, ngabuburit di Gramedia buat mencari bahan bacaan selama libur lebaran. Tidak banyak bacaan baru (dalam hal ini novel tentunya) yang bisa dibeli. Praktis saya dan teman mengubek-ngubek tumpukan dan pajangan di rak display untuk mencari novel yang bisa dibeli. Tapi, sambil mengubek-ngubek pajangan dan tumpukan buku itu, pandangan mata saya selalu saya mengarah ke novel ini *tergoda*

Continue reading

9 Summers, 10 Auntumns

Impian haruslah menyala dengan apa pun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.” (Iwan Setyawan – halaman 21)

Kebiasaan saya yang berhubungan dengan membaca adalah, saya tidak suka membeli sebuah buku pada saat buku tersebut sedang booming. Rasanya tidak terlalu mengasikkan membaca buku di saat orang lain pun sedang heboh membacanya. Aneh memang. Tapi ya itulah saya.

Kali ini saya ingin membahas tentang 9 Summers 10 Auntumns-nya Iwan Setyawan.  Saya tidak meresensi buku ini. Karena telah banyak orang hebat yang telah melakukannya. Sementara saya, bukanlah siapa-siapa.  Beberapa orang bilang, buku ini bukan buku tentang mimpi, tapi tentang kerja keras. Bagi saya, buku ini tentang mimpi. Tapi mimpi yang diwujudkan dengan kerja keras. Iwan Setyawan boleh bilang kalau mimpi-mimpinya hanya sampai atap rumahnya. Tapi bagi saya mimpi itu tetap tersimpan walau terhalang atap rumah. Continue reading