Kesempatan

 

Berawal dari Facebook baruku,
Kau datang dengan cara tiba-tiba… (My Facebook ~ Gigi)

Kamu tahu??? Betapa tepatnya lirik-lirik itu… Melihat namamu di jajaran friend request cukup membuatku tersenyum sepanjang hari. Meski jariku belum menggerakkan mouse ke arah kotak Comfirm Request.

Sudah sepuluh tahun ya??? Dan kamu tahu??? Semua masih sama seperti dulu… Tapi… adakah kesempatanku mendekatimu setelah sepuluh tahun rasa ini terpendam???

pic taken from here

 

Advertisements

Tentang Malam

Astronomi. Apa yang kutahu tentang Astronomi? “Astronomi itu ilmu perbintangan. Titik.” kataku malam itu saat kita bersama duduk di taman rumahku sambil memandangi bulan purnama. “Bulan sabit itu bulan favoritku.” cetusmu tiba-tiba. “Iya. Karena kamu suka banget sama kue mentega buatan Mamaku yang bentuknya bulan sabit trus dilumuri tepung gula. Setiap lebaran Mama pasti nggak lupa sama kue itu gara-gara kamu.” sambarku. Continue reading

Langkah Nadia

Nadia berangkat sekolah dengan rasa malas yang lebih hebat daripada biasanya. Hari ini pun ada ulangan Kimia, Nadia semalaman hanya membaca novel, tak menyentuh bahan ulangan. Ya, sudah seminggu ini Nadia merasa sekolah Nadia bukan sesuatu yang menyenangkan lagi. Ini karena Nadia mendapat kabar dari papa, bahwa papa akan dipindah tugas ke Surabaya. Ah, bagaimana bisa Nadia meninggalkan Bandung yang sudah menjadi kota kecintaannya. Karena semua teman dan impian telah ia miliki di kota kelahirannya itu. Continue reading

Cinta Yang Berbeda

 

Love is bullshit, isn’t???

Mereka yang percaya cinta hanyalah orang-orang bodoh. Makanya tak sekalipun aku pernah percaya pada cinta. Pacaran boleh, suka oke, tapi cinta??? itu lain soal.

Hei… jangan menghakimi aku sebagai seorang perempuan murahan atau perempuan tipe playgirl. Aku perempuan baik-baik. Hanya saja aku tak percaya pada cinta. Tidak… Tidak ada satu hal atau kejadian buruk apapun yang pernah kualami berkaitan dengan cinta. Aku hanya tak percaya cinta. Itu saja. Continue reading

A Thousand Miles

 

Sudah 30 menit Mita melakukan aktivitas gak jelas di kamar, tangannya memegang ponsel sambil kadang-kadang diangkat ke atas dan digoyang-goyangkan persis tarian supporter bola di Senayan. Sesekali terdengar teriakan geram dari mulutnya “aaargggghhh”.  Kemudian ia berteriak lagi “ini sinyalnya kenapa sihhh, gak kekirim-kirim dehh Whatsapp-nya”. Ooooh rupanya aktivitas gak jelas yang dilakukan Mita adalah usaha pencarian sinyal demi bisa kirim whatsapp ke Doddy.

 “Heh nenek, ngapain dari tadi lo senyam-senyum disitu” Semprotan Mita mau tak mau mengagetkanku yang dari tadi duduk bengong di depan kamar memperhatikan kelakuannya sambil sesekali tertawa. “Lah lo sendiri ngapain dari tadi nari hula-hula gak jelas gitu? Stress lo ya?” ledekku kepadanya. “Gue lagi nyari sinyal inihh, gara-gara Whatsapp gak terkirm gue jadi berantem deh sama Doddy” Mita merajuk. “Yaelah kenapa gak telepon aja sihh, kan lebih enak ngomongnya lebih jelas, gak bakal salah paham” saranku. “Mahal neneeeeek, ini kan tanggal tua uang kiriman emak gue kemaren cuma cukup buat makan seminggu huhuhu” Mita merajuk lagi. Continue reading

Lamunanku

“Nanti kalau Pak Emil minta data, beri semua data yang dia minta ya.”

Ucapan Bu Riani dua minggu yang lalu melintas di kepalaku setelah tadi pagi Dian memintaku untuk datang ke ruangan bosnya memberi data yang diperlukan.

Pak Emil. Sudah sebulan ini namanya menjadi bahan pembicaraan para perempuan lajang di seantero kantor ini. Kabar yang beredar bilang, orangnya ganteng tapi sayangnya garang. Jarang tersenyum. Lebih sering tersenyum kepada bapak-bapak dan ibu-ibu petugas Cleaning Service dan Pantry daripada ke perempuan-perempuan lajang yang selalu menebar senyum setiap kali ia lewat. Dian sendiri selalu heboh bercerita tentang bosnya itu saat jam makan siang. Yang suaranya tegas tapi menghanyutkanlah. Yang tatapannya tajam tapi membuat kakinya terasa lunglai setiap mendapat pelototan dari si bos. Aku sendiri belum pernah bertemu Pak Emil. Continue reading