Listopia 2015 ARound The World Reading Challenge

List ini dibuat untuk merekap 2015 Around The World Reading Challenge :

Amerika :

  1. Los Angeles, Amerika Serikat (Amy & Roger’s Epic Detour by Morgan Matson)
  2. Michigan, Amerika Serikat (In The Line Of Duty by Ami Weaver)
  3. Ontario, Kanada (How I Fall by Anne Eliot)

Asia :

  1. Bandung, Indonesia (Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq)
  2. Yogyakarta, Indonesia (Sea by Heidi R. Kling)
  3. Jakarta, Indonesia (Blue Romance by Sheva)

Australia :

  1. Melbourne (Melbourne : Rewind by Winna Efendi)

Afrika :

Eropa :

  1. London, Inggris (Me Before You by Jojo Moyes)

 Postingan ini bakal terus diupdate mengikuti reading challenge yang saya ikuti 🙂

Advertisements

Cerita si Kutu Buku

Manusia sejatinya adalah seorang makhluk sosial. Senang bersosialisasi. Bagi seorang kutu buku seperti saya sosialisasi adalah saling meminjamkan buku dengan orang lain khususnya sesama kutu buku. Saya selalu menganggap jika seseorang suka membaca maka ia sayang pada buku. Rasa sayang yang bagaimanakah???

 Saya mendefinisikan rasa cinta (dan sayang) saya pada buku dengan jalan :

  1. Menyampul setiap buku.
  2. Tidak melipat atau mencorat-coret halaman.
  3. Saat membaca buku, tangan harus dalam keadaan bersih dan tidak basah.
  4. Jika saya meminjam sebuah buku, saya harus ingat dan sadar diri untuk mengembalikannya.

Saya yakin, para pecinta buku yang lain juga punya memperlakukan buku seperti saya. Beruntung sejak bergabung di Blogger Buku Indonesia saya menemukan kutu buku seperti saya. Tak hanya saling berbagi cerita tentang buku, tapi juga saling meminjamkan buku atau bahkan menitip membelikan buku. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk dipinjami beberapa buah buku. Continue reading

Para Pramuniaga di Toko Buku

Akhirnya… saya kembali menginjakkan kaki di pulau Ternate. Niat awalnya mengikuti seminar gratis yang diadakan oleh salah satu rumah sakit swasta di Manado. Selesai seminar, tiba-tiba teman seperjalanan saya mengajak saya untuk melihat-lihat buku di toko buku terbesar di Ternate, dan punya cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan sedikit tersenyum dan anggukan setengah hati padahal dalam hati girang bukan kepalang saya mengiyakan ajakannya. *sedikit jual mahal*

Sampai di sana, kami langsung berpisah jalan. Dia mencari ke bagian buku anak-anak dan saya ke bagian buku terjemahan sambil mengeluarkan notes kecil berisi daftar wishlist yang sudah saya persiapkan sejak dari rumah.

Seorang pramuniaga cewek datang membantu saya mencari buku-buku yang saya inginkan. Dan kami pun terlibat dalam percakapan. Continue reading

Life With(out) Books

Sebelum merantau ke Maluku Utara, saya sempat bertandang ke rumah salahseorang teman untuk pamit kepadanya. Dirumahnya, saya melihat tak ada tumpukan buku. Ini cukup aneh. Masalahnya dia itu sama seperti saya, kutu kupret buku. Lantas kenapa tak ada tumpukan buku atau lemari buku di rumah seorang kutu buku? Melihat kebingungan saya, dia pun menjawab “Nggak dikasih Abang untuk beli buku lagi. Yang boleh sekarang majalah yang sebulan sekali.” Suaranya pelan saat menjawab. Oke… saya nggak berhak menghakimi si suami melarang teman saya itu untuk melanjutkan hobinya setelah menikah. Mungkin saja mereka sedang membutuhkan uang yang besar, sehingga setiap pengeluaran yang tidak penting harus ditiadakan. Atau mungkin si suami merasa teman saya itu sudah cukup banyak membaca sehingga setelah menikah tak perlu lagi membaca. Atau mungkin si suami merasa cemburu bila istrinya terlalu mesra dengan buku-bukunya. Entahlah… itu urusan dapur mereka. Continue reading

Lembar Lembar Buku Putri

 Saya percaya setiap dari kita punya sesuatu hal yang bisa dikerjakan saat kita mulai jenuh dengan sesuatu hal. Bisa dengan masalah pekerjaan, masalah status lajang *halah*, atau apapun itu. “Me Time” mungkin istilah yang paling ngetrend. Yah… intinya… kegiatan yang bisa dilakukan untuk relaksasi.

 Bagi saya, salah satu “me time” saya adalah membaca. Ya… membaca buku lebih tepatnya. Tapi mari saya perjelas, membaca buku kuliah yang tebalnya bisa dijadikan bantal tidur itu ataupun kalau dipake buat ngelempar anjing langsung mati, bukanlah termasuk me time saya 😀 . Jelas buku-buku yang tebalnya ratusan halaman itu saya baca ketika jaman kuliah dulu, atau koas, atau sekarang ini ketika saya sudah kejepit. Misalnya, mau jelang ujian semesteran, ataupun kalau besok mau pre test, mid test dan post test jaman koass. Hahaha… Ya… saya salah satu dari ribuan mahasiswa penganut Sistem Kebut Semalam… 😀 😀 😀 Continue reading

Buku Sampah

Tadi pagi saya baru dari TB Gramedia. Niatnya sih mau nyari buku. Ya iyalah, nggak mungkin nyari alat pertukangan di toko buku :). Dan… sampailah saya di bagian novel barat dan Indonesia. Disitu ada beberapa orang cewek seumuran anak kuliahan yang lagi ngeliatin buku-buku yang masih bersusun rapi. Maklumlah hari masih pagi, belum ada tangan-tangan jahil yang meletakkan buku sembarangan.

Di bagian novel itu saya mencari bukunya Ferdiriva Hamzah yang judulnya Cado Cado (Catatan Dodol Calon Dokter). Menurut rekomendasi teman, buku itu wajib dibaca (dan dibeli) karena alasan nostalgia. Waktu saya sedang mencari-cari buku itu gerombolan cewek-cewek yang ada disitu nyeletuk dengan suara keras “Ih…. Buku-buku nggak mutu.” “Buku sampah.” lanjut yang lain. “Heran kok ada ya yang mau beli buku-buku yang kayak gitu” sambung yang lain sambil mengeleng-gelengkan kepala. Spontan saya berhenti mencari buku dan pura-pura hanya melihat buku yang ada.

Continue reading