Sepenggal Cerita Tentang Dia

pic taken from here

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam

di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, akan kau dapatkan pengganti

dari kerabat dan kawan

Berleha-lehalah, manisnya hidup terasa

setelah lelah berjuang…

(Imam Syafii)

Kutipan seorang ulama tersebut saya kutip dari halaman awal novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Sebuah novel yang bertepatan saya baca ketika hati saya sedang gundah. Apa pasal???

Sebuah sms yang saya terima di pagi-pagi buta menjadi penyebabnya. Seorang teman menyatakan keprihatinannya akan “kebodohan” saya yang mau memilih mengabdikan ilmu saya hingga ke hampir ujung timur Indonesia dengan bayaran  yang ala kadarnya. Udah gaji kecil, nggak punya kenalan atau sanak saudara, jauh dari keluarga, eh kok mau… begitulah kira-kira isi smsnya. Jujur sebagai manusia normal, saya gamang saat mengetahui dia punya pekerjaan dengan gaji tinggi dan dekat dengan keluarga.

Wajar donk saya galau. Iya kan??? *maksa* 🙂 Namun kini, saya sadari apa yang dibilang teman tersebut salah. Continue reading

Advertisements

Perkara Bahasa

pic taken from here

Salah satu hal yang paling sering tidak kita sadari adalah waktu.

Dan hari ini saya baru sadar jika saya sudah berada di tanah Halmahera, Maluku Utara selama delapan bulan. Itu artinya tersisa waktu empat bulan lagi untuk saya berada di sini. Layaknya para perantau lainnya, saya pun mengalami culture shock di sini. Culture shock apaan??? Sama-sama tinggal di Indonesia kok.” ejek seorang teman. Perbedaan bahasa adalah culture shock yang saya maksud. Indonesia Timur (juga) termasuk Indonesia kok. Dan bahasa yang dipakai (juga) bahasa Indonesia. Lantas dimana perbedaannya??? Continue reading

#MagicalMay 2012 Day 6 ~ Occupation

06 Mei 2012

Tugasnya adalah…

Syukuri 10 hal dari hari kemarin (Sabtu, 5 Mei 2012). Akhiri dengan “terima kasih” 3 kali. Lalu tulis hal-hal yang kamu syukuri atas pekerjaan/karirmu, dan doakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. OB, atasan, pembantu rumah tangga, tukang sayur. Siapa pun. Juga benda-benda yang membantu pekerjaan kita. Doakan supaya awet :))

10 hal yang disyukuri dari hari kemarin (5 Mei 2012) adalah… Continue reading

#MagicalMay2012 Day 5 ~ Wealth

05 Mei 2012

Tugasnya adalah…

Tuliskan 10 pencapaian finansialmu yang paling kamu syukuri: “Aku bersyukur atas _____. Terima kasih.” Kalau ada yang ingin menggunakan token, boleh tuliskan kata-kata yadi di selembar uang kertas. Dan jika takut tugas hari ini dianggap sombong/pamer oleh orang lain, tidak perlu ditulis di blog :))

Pencapaian bidang finansial yang paling saya syukuri adalah… Continue reading

Tentang Dia dan Rasa Kecewanya

Suaranya masih terdengar nyaring di telinga saya. Namun sayang saya tak terlalu mendengarnya. Saya lebih terpaku memandangi ombak yang menghantam dinding feri penyebrangan Tidore – Sofifi sambil menahan dinginnya angin yang bertiup kencang.

“Aku mau pulang.Tapi aku nggak dapat izin.”

Saya tersenyum mendengar kalimatnya. Sebagai sesama perantauan saya cukup mengerti bagaimana rasanya menahan rindu pada kampung halaman. Dan ya… saya juga paham bagaimana rasanya ingin pulang namun tak mendapat izin. Kabur? Ah… itu jalan pengecut kawan.

“Kontrak kerjaku memang tak mengizinkanku untuk mengambil cuti. Tapi toh biasanya kantor tak pernah sekejam itu. Pasti karyawan kontrakan macam kami ini diizinkan untuk pulang ke rumah barang beberapa hari. Tapi entah kenapa kali ini aku tak diizinkan untuk pulang.”

Nah… kalimat terakhir itu yang menyentak saya. Saya alihkan pandangan dari konfigurasi indah ombak di bawah sana. Kali ini serius mendengar setiap patah katanya.

“Kontrakku sudah berjalan sembilan bulan. Tapi selama itu tak sekalipun aku pernah turun gunung. Tak pernah sekalipun aku pergi kesana kemari. Aku bertahan karena kupikir kepatuhanku mungkin bisa dibalas dengan diizinkannya aku pulang.” Dia menghela nafas.

“Serius tak pernah turun gunung? Lalu kebutuhan pribadimu bagaimana?” tanya saya. Tak percaya pada pernyataannya. Bagaimana mungkin seseorang seperti dia bisa bertahan terkurung di atas gunung.

“Pernah sekali-sekali. Namun tak lebih dari sepuluh kali. Itupun waktu kantor cabang memanggilku. Selebihnya tidak. Aku selalu menitip semua kebutuhan pribadiku sama teman-teman yang turun ke bawah. Lagi pula sebesar apa sih kebutuhan pribadiku.”

Saya terdiam. Membayangkan sosoknya yang selama sembilan bulan tak pernah keluar dari kungkungan gunung tempatnya bekerja. Saya teringat sewaktu pertama kali dia bercerita pada saya akan kecintaannya pada tempat tugasnya yang baru.

“Keren…. Dingin banget udaranya. Airnya juga manis Put. Teko airku setiap malam harus kututup rapat karena kalau nggak, besok pagi sudah dikerubungi semut. Dan yang paling penting, karena daerah ini tinggi, sinyalku lancar. Tunggu saja update blog terbaruku. BBMku pasti aktif selalu.”

Saya tersenyum mengingat percakapan sembilan bulan yang lalu. Desah kecewanya menarik saya kembali ke masa kini.

“Hanya karena aku tak punya kerabat siapapun di kantor cabang, atau aku tak pandai menjilat sana-sini, kinerjaku dan kepatuhanku tak dipandang sebagai nilai lebih di kantor ini. Aku kecewa berat.Tuhan memang tak adil”

“Nggak usah terlalu kecewa seperti itu.Apalagi sampai membawa-bawa nama Tuhan. Insya Allah pasti ada kok hikmah dibalik semua ini. Dan pasti akan ada balasan setimpal buat semua kerjamu selama ini.” nasihat saya bijak.

“Cih… aku nggak butuh balasan setimpal. Aku cuma butuh izin pulang. Hidup memang tidak adil.” katanya menutup percakapan kami.

Saya diam namun dalam hati berkata “Hidup memang tidak adil. Kalau hidup adil, nggak akan ada orang yang kecewa lalu memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri.” Bukan begitu???

pic taken from here