Catatan 24 Oktober

Tulisan ini saya buat untuk memperingati Hari Dokter yang jatuh pada 24 Oktober kemarin, namun berhubung hubungan saya dan sinyal hape nggak begitu mesra maka…. baru bisa diposting hari ini. Mohon maaf jika seandainya tulisan ini dianggap sebagai pembenaran tindakan atau sanggahan dari sebuah tindakan.

Sepanjang tanggal 24 Oktober itu saya mencoba googling tentang peringatan Hari Dokter. Ada banyak artikel yang mengupas tentang sisi materialistisnya dokter. Saya tidak menampik, bahwa profesi yang seharusnya berdasarkan kemanusiaan ini, kini telah bergeser ke arah hubungan untung rugi. Dengan kata lain, sakit??? Punya uang, berobat. Gak punya, tahankanlah situ. Saya tidak menutup mata atas keadaan itu, namun adalah yang pernah tahu bagaimana kehidupan para dokter yang berada di daerah perifer, seperti dokter PTT???

Alah…. PTT itu kan gajinya gede. Apa susahnya sih. Lebay. Continue reading

Advertisements

Cerita Insenda

Malam ini, sewaktu menjelajahi situs tampang buku, saya mampir di grup dokter PTT Pusat. Ya, dari namanya saja sudah dapat diduga bahwa grup tersebut diperuntukkan untuk para dokter yang berniat, sedang menjalani atau pasca PTT Pusat. Sebuah grup yang didirikan untuk sekedar berbagi cerita tentang PTT yang sedang atau telah dijalani.

Pada saat-saat sekarang ini, wall grup tersebut penuh oleh pertanyaan-pertanyaan dari pada dokter yang akan menjalani penempatan PTT pada awal Oktober nanti. Pertanyaan yang diajukan berkisar antara mencari teman yang sama-sama ditempatkan di kabupaten yang sama, keadaan / kondisi daerah dan masyarakat (dan tak ketinggalan juga keadaan dinas dimana penempatan dilakukan), keperluan apa saja yang perlu dibawa saat datang ke daerah penempatan, sampai pada jumlah insenda atau yang lebih dikenal dengan Insentif Daerah.

Biasanya, pertanyaan tentang insentif daerah banyak ditanyakan pada saat sebelum dan waktu pendaftaran PTT Pusat. Ya, pertanyaan tentang uang tambahan selain gaji yang telah diterima, yang bernama Insentif Daerah. Ya, mendapatkan insentif daerah adalah salah satu kriteria yang paling menjadi prioritas saat mendaftar PTT di tempat yang akan dituju. Dengan sebuah alasan sederhana seperti, jauhnya jarak antara tempat pengabdian dengan tempat tinggal keluarga (baca: merantau) dimana seharusnya ada sesuatu yang dihasilkan (dalam hal ini tentu saja uang) sehingga waktu merantau tersebut tidaklah berakhir sia-sia, menjadikan insentif daerah yang besar menjadi barang yang paling dikejar oleh dokter PTT.  Jika mau berbahasa kasar, maka ungkapan “ngapain jauh kali pergi, kalau tidak ada uang yang bisa ditabung” menjadikan insentif daerah populer di kalangan dokter PTT, karena selain menjadi ajang pengabdian yang tak lagi berhukum wajib, PTT pun dapat menjadi ajang untuk mengumpulkan Rupiah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah masa bakti PTT selesai . Mungkin kedengarannya terkesan seperti matre. Tapi tidak dapat dipungkiri, dijaman yang semuanya serba uang ini, profesi ini pun ikut tergerus oleh jaman. Uang menjadi pertimbangan yang penting.

Continue reading

SocMed Kemarin

 

Kemarin di situs tampang buku, saya mengkomentari status seorang teman. Dia bercerita kalau dia saat ini sedang sibuk kembali ke bangku kuliah lagi buat mengambil program S2. Perasaan saya saat membaca statusnya, jujur, agak sedikit membuat hati ini bergetar karena iri.

Yah… Saya teringat bahwa saya pun punya mimpi yang sama seperti dia. Bedanya, dia sudah mewujudkannya dan saya masih harus mencari tangga yang cukup tinggi dan kokoh untuk menggapainya.

Continue reading

Ketika Iseng Mengkhianati Saya

Saya dan iseng telah berteman cukup lama. Biasanya jika saya senang, iseng pun ikutan senang. Juga begitu sebaliknya. Namun beberapa waktu kemarin iseng mengkhianati saya. Iseng membuat saya diam tak berkutik. Gini loh ceritanya. Di awal bulan Agustus kemarin, disini ada pengumuman penerimaan Pegawai Tidak Tentu. Dengan semangat ’45 yang nggak akan pernah basi ataupun luntur 😀 saya pun ikutan mendaftar. Setelah mengisi form pertama tentang identitas pribadi, jelas saya harus melanjutkan mengisi form kedua yang berisi tempat peminatan saya sebagai Pegawai Tidak Tentu. Di form pertama, saya lancar saja mengisinya, nah……. di form yang kedua……….

Continue reading