Six Sense Palsu??? Ah, Masa???

Mungkin udah seribu kali saya bicara tentang pernikahan, jodoh dan umur.  Meskipun postingan saya belum sampai seribu. Dan postingan kali ini pun bercerita tentang hal yang sama.

Jadi, waktu saya pulang ke Medan, seseorang memaksa saya untuk berkenalan dengan sesosok manusia yang katanya mempunyai kelebihan berupa six sense.  Sumpah… hari itu jauh lebih memuakkan dari pada saat saya harus standby jaga siang malam di rumah sakit hingga 20 jam berturut-turut waktu koas dulu. Dan layaknya pemilik six sense disejagat raya ini, dia pun segera “memperkosa” saya.  Dan keluarlah alasan mengapa saya hingga kini belum menikah. Oh… selain si six sense itu ada juga temannya yang… panggil dia Psikolog Gadungan. Karena saya tahu, latar belakang pendidikannya bukan Sarjana Psikologi melainkan entah apalah itu. Mereka itu tak terpisahkan, nyaris seperti gas dan minyak bumi. Atau pulpen dan kertas. Atau… terserah dah.

Balik lagi ke penyebab mengapa saya belum juga menikah. Ada beberapa alasan sih yang dipaparkan mereka berdua. Let’s see…

pic taken from here

Saya hanya mau pada laki-laki yang sudah mapan alias sudah terjamin finansialnya.

Well… siapa siy yang mau hidup susah??? Nggak usah munafik deh. Jika pun saya mencari sosok laki-laki yang mapan, bagi saya itu lebih bersifat ke dia sudah punya pekerjaan tetap yang bisa dijadikannya sumber pemasukan untuk menghidupi keluarga barunya. Bukan disitu baru menikah baru disitu mulai memiliki pendapatan sendiri. Saya tau kok… dimana siy nyari pria dengan umur dibawah 30 tahun atau diatas 30 tahun lebih sedikit yang punya harta melimpah kecuali di dalam buku cerita, atau dia pewaris kekayaan keluarganya yang punya kekayaan triliyunan dolar (atau Rupiah?), atau dia pangeran seperti Pangeran William???

Kalau memang saya minat mencari laki-laki yang langsung bisa menjamin kemapanan finansial saya, kenapa dulu nggak saya terima tawaran seseorang untuk menjodohkan saya dengan seorang duda yang umurnya lima belas tahun lebih tua daripada saya tapi dia punya ratusan hektar kebon sawit dan karet serta punya pekerjaan sebagai anggota DPRD??? Bakalan super duper nyaman tuh hidup saya. Nggak perlu kerja. Tiap bulan bisa jalan-jalan ke Eropa. Tapi tawaran itu tak saya gubris. See??? Masih bilang saya hanya mau pada laki-laki yang sudah terjamin finansialnya???

Parahnya, seseorang yang ikut bersama saya saat itu, yang sekian lama ini saya pikir dia lah yang paling mengerti tentang saya, malah ikutan nibrung dengan berkata “mau cari dimana laki-laki kayak gitu. Ya nggak bisalah punya pemikiran yang seperti itu.” Itu pemikiran saya??? Pemikiran saya??? Nggak salah??? *elus dada*

Saya terlalu rendah diri dengan kondisi tubuh saya.

Well.. ini sebenarnya dicetuskan oleh orang lain yang ada dalam pertemuan absurd tersebut. Saya nggak ngerti apa hubungan antara jodoh, cara berpakaian, dan profesi saya. Namun pembahasan malah menjadi seperti itu. Satu ucapan yang paling saya ingat adalah “liatlah dia. Kayak mana gitu dokter kok kayak gitu. Nggak ada lipstick-an. Kalau di rumah baju yang dipakai yang kumal. Nggak pernah peduli. Kayak mana ada laki-laki yang mau tertarik?”

Koreksi jika saya salah. Namun dari ucapan tersebut yang dapat saya tangkap maknanya adalah dokter itu harus setiap saat dalam kondisi rapi, nggak boleh dalam keadaan tercela. Emangnya dokter itu semacam selebritis yang kemana-mana diikuti kamera dan segala kegiatannya ditayangkan ditelevisi nasional??? Lagi pula rasanya nggak kerjaan dirumah pun harus dandan lengkap pake lipstick, foundation, maskara, de el el. Saya lupa apa jawaban si six sense atau si psikolog gadungan itu.

Tentang laki-laki yang mau dengan saya. Saya justru merasa senang kalau laki-laki yang mau sama saya itu melihat saya dalam keadaan pakaian rumah yang nggak banget itu. Biar dia tahu, kalau saya itu bukan tipe perempuan yang nggak akan keluar dari rumah kalau didalam tasnya nggak ada peralatan make-up lengkap. Saya tipe bookworm yang nggak akan keluar rumah kalau di dalam tas saya nggak ada buku yang bisa saya baca. Jika si laki-laki itu mundur, ya udah. Berarti dia nggak suka pada saya, dan dia bukan jodoh saya. That’s it. Gampang kan???

Sebenarnya ada beberapa lagi. Tapi saya sudah lupa. Males mengingatnya. Rugi aja rasanya membiarkan memori otak saya menyerap dan menyimpan hal-hal yang nggak mutu kayak gitu. Terakhir, sebagai kesimpulan, agar orang tua saya yang di rumah merasa tenang saat saya pergi merantau seperti saat ini, ada satu solusi yang pasti tokcer.

Saya harus berhenti dari pekerjaan saya saat ini. Nikah dulu. Baru pergi merantau.

Gila aje lo!!! Nggak salah??? Gampang kali muncungnya ngomong kayak gitu. Abis otaknya ditaruh didengkul siy bukan di dalam tulang tengkorak tersembunyi dengan aman. Gak gampang untuk berhenti begitu saja. Ada aturan-aturan agar saya bisa berhenti. Kontrak saya dibuat dalam bentuk tertulis yang harus saya patuhi. Trus kalau saya berhenti, sampai kapan saya harus berhenti bekerja? Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun? Apa kalau saya berhenti dari pekerjaan saya lantas menjamin saya segera menikah? Atau saya malah putus asa dan menyambar siapa saja yang mau dengan saya, yang penting nikah, lalu kerja lagi?

Dia juga sempat menawarkan agar saya tak usah sama sekali bekerja. Doh… beneran deh… Lama-lama dua orang ini pengen saya kutuk pakai mantra Crucio atau Imperio-nya Harry Potter. Sembarangan banget kalau ngomong. Saya tuh tipe perempuan yang ngerasa hidupnya nggak sempurna kalau nggak kerja. Saya tanpa profesi yang saya tekuni mungkin kayak sepasang high heels tapi sebelah bagiannya patah. Timpang.

Masalah merantau? Kalau saya sudah menikah, pasti saya maunya dekat sama suami dong. Bukan suami di selatan, saya di utara.  Prinsip saya siy, dimana ada suami disitu ada saya. Kecuali kalau suami saya sedang ditugaskan keluar kota. Cukup deh yang pacaran aja yang LDR. Nikah jangan sampai LDR lagi.  Ribet urusannya. Kalau kata teman saya “jadi kepikiran mulu, Put. Suami hari ini makan apa. Bajunya siapa yang nyiapin. Tidurnya cukup nggak. Kalau dia sakit siapa yang ngurus.” Waktu saya jawab semua perkataannya dengan satu kalimat singkat “dia kan udah besar. Nggak perlu segitu kalinya diurus. Kayak anak-anak aja.” Kontan saya ditimpuk pakai pulpen sama si teman.

“Ye… kalau ngurus diri sendiri ngapain nikah. Sama aja dengan lajang. Trus ngapain nikah? Supaya halal? Supaya nggak cuma bisa grepe-grepe doang? Supaya nggak bikin aib?”

Setelah sekian lama dengar ucapan dia, saya baru mikir kalau itu anak bener juga. Bukannya ada tuh hasil penelitian yang bilang kalau laki-laki yang menikah hidupnya akan lebih sehat dan bahagia daripada yang lajang, karena ada istri yang selalu mengingatkannya untuk hidup sehat??? Saya siy pernah baca di majalah kesehatan waktu jaman kuliah dulu. Istri mana siy yang mau jauh dari suaminya kecuali kalau lagi berantem atau nikahnya karena paksaan. Ya nggak???

Intinya saya gerah banget sama ucapan-ucapan si six sense dan psikolog gadungan itu. Bukan karena si six sense berhasil “menelanjangi” jiwa saya. Tapi lebih karena ucapan-ucapan mereka yang ngasal itu. Si six sense kan bisa membaca kepribadian saya dengan kemampuan istimewanya. Jadi seharusnya dia tahu dong, apa mau saya, bagaimana saya, dan solusi tepat buat saya. Bukan malah menambah masalah dengan bicara sembarangan seperti itu.  Atau jangan-jangan six sense yang dimilikinya itu palsu??? Doh… ternyata yang palsu itu nggak cuma ijazah dan alamatnya Ayu Ting-ting *tepok jidat*

Lama-lama saya pikir, sepertinya Kutukan Crucio ataupun Imperio nggak cukup buat mereka berdua. Mereka lebih tepat dikutuk dengan mantra Avada Kedavra. Agar tak ada lagi korban-korban mereka seperti yang saya alami.

Oh… jika mereka membaca postingan saya tentang daftar cowok idaman versi buku yang saya buat bersama teman-teman anggota BBI, saya curiga mereka akan berkata kalau saya sudah mulai terganggu pemikirannya akibat terlalu banyak membaca buku roman. Dan disarankan agar saya menghentikan kebiasaan saya tersebut jika ingin hidup saya normal. Saya yakin itu seribu persen!!!

Advertisements

4 thoughts on “Six Sense Palsu??? Ah, Masa???

  1. yups, ini ttg jodoh dan menikah 😀
    dan bener siapa sih yang mau idup susah, dan kalo dapat cowo secara finansial bagus namun kalo pelit yah sama aja :p

    intinya sih, semua lakukan karena perintah Tuhan, insya Allah semua baik adanya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s