Perkara Bahasa

pic taken from here

Salah satu hal yang paling sering tidak kita sadari adalah waktu.

Dan hari ini saya baru sadar jika saya sudah berada di tanah Halmahera, Maluku Utara selama delapan bulan. Itu artinya tersisa waktu empat bulan lagi untuk saya berada di sini. Layaknya para perantau lainnya, saya pun mengalami culture shock di sini. Culture shock apaan??? Sama-sama tinggal di Indonesia kok.” ejek seorang teman. Perbedaan bahasa adalah culture shock yang saya maksud. Indonesia Timur (juga) termasuk Indonesia kok. Dan bahasa yang dipakai (juga) bahasa Indonesia. Lantas dimana perbedaannya???

Ada beberapa perbedaan bahasa antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur yang sejauh saya mengerti. Diantaranya :

  1. Saya, Indonesia Barat = aku (kata ganti orang pertama tunggal). Indonesia Timur = iya.
  2. Kita, Indonesia Barat = kita (kata ganti orang pertama jamak). Indonesia Timur = saya , aku.
  3. Sebentar, Indonesia Barat = mengacu pada waktu sesaat lagi, tidak lama lagi. Indonesia Timur = nanti (mengacu pada waktu akan datang yang agak lama, kelak).

Lumayan jauh perbedaannya, bukan???

Itu hanya segelintir yang saya pahami. Saya yakin, ada perbedaan lainnya yang belum saya pahami di rentang waktu yang singkat ini. Agar lebih gampang menyerap kata-kata yang ada, saya sering berusaha menyelipkan kata-kata yang saya tahu artinya dalam bahasa Indonesia Timur dalam setiap percakapan saya. Alhasil bahasa saya jadi gado-gado. Hingga suatu saat bahasa gado-gado saya pun menjadi bahan tertawaan -__-

Ya… saya ditertawakan karena saya salah ucap.

Tidak. Saya tidak sakit hati pada orang-orang yang menertawakan kesalahan saya itu. Saya lebih merasa kecewa. Mengapa harus ditertawakan??? Apanya yang lucu??? Dimana letak salah kata atau kalimat yang saya ucapkan???

Mungkin bagi yang lain ini adalah masalah sepele. Namun bagi saya masalah ini tidak cukup mudah untuk “digampangkan” saja. Apa mereka tahu, setiap saya mau ngomong, saya selalu memutar otak memikirkan kata apa yang kira-kira dimengerti oleh lawan bicara saya menggantikan kata yang biasa saya ucapkan. Misalnya, saat saya berada di pasar, saya terus mengulang-ulang dalam hati jika cabe punya padanan kata rica atau lombok di sini. Mereka tidak tahu apa itu cabe, tapi mereka paham apa itu rica atau lombok.

Saya cuma minta hargai kerja keras saya. Perbaiki apa yang menjadi salah saya. Cuma itu kok.

gambar dipinjam dari sini

Ah… mendadak saya rindu bicara bahasa Medan, dan berteriak pada bocah-bocah di luar sana yang sedang tertawa terbahak-bahak  dengan kalimat “Woy…. recok kali pun muncung kelen!!!” (recok = ribut. Muncung = mulut. Kelen = kalian)

 

Advertisements

3 thoughts on “Perkara Bahasa

  1. idem 😀
    suka rempong kalo ketemu orang yang berbeda culture tapi syukurlah semua pelan-pelan bisa teratasi.

    paling mentok itu kalo saya ketmu orang bule kaka :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s