Tentang Dia dan Rasa Kecewanya

Suaranya masih terdengar nyaring di telinga saya. Namun sayang saya tak terlalu mendengarnya. Saya lebih terpaku memandangi ombak yang menghantam dinding feri penyebrangan Tidore – Sofifi sambil menahan dinginnya angin yang bertiup kencang.

“Aku mau pulang.Tapi aku nggak dapat izin.”

Saya tersenyum mendengar kalimatnya. Sebagai sesama perantauan saya cukup mengerti bagaimana rasanya menahan rindu pada kampung halaman. Dan ya… saya juga paham bagaimana rasanya ingin pulang namun tak mendapat izin. Kabur? Ah… itu jalan pengecut kawan.

“Kontrak kerjaku memang tak mengizinkanku untuk mengambil cuti. Tapi toh biasanya kantor tak pernah sekejam itu. Pasti karyawan kontrakan macam kami ini diizinkan untuk pulang ke rumah barang beberapa hari. Tapi entah kenapa kali ini aku tak diizinkan untuk pulang.”

Nah… kalimat terakhir itu yang menyentak saya. Saya alihkan pandangan dari konfigurasi indah ombak di bawah sana. Kali ini serius mendengar setiap patah katanya.

“Kontrakku sudah berjalan sembilan bulan. Tapi selama itu tak sekalipun aku pernah turun gunung. Tak pernah sekalipun aku pergi kesana kemari. Aku bertahan karena kupikir kepatuhanku mungkin bisa dibalas dengan diizinkannya aku pulang.” Dia menghela nafas.

“Serius tak pernah turun gunung? Lalu kebutuhan pribadimu bagaimana?” tanya saya. Tak percaya pada pernyataannya. Bagaimana mungkin seseorang seperti dia bisa bertahan terkurung di atas gunung.

“Pernah sekali-sekali. Namun tak lebih dari sepuluh kali. Itupun waktu kantor cabang memanggilku. Selebihnya tidak. Aku selalu menitip semua kebutuhan pribadiku sama teman-teman yang turun ke bawah. Lagi pula sebesar apa sih kebutuhan pribadiku.”

Saya terdiam. Membayangkan sosoknya yang selama sembilan bulan tak pernah keluar dari kungkungan gunung tempatnya bekerja. Saya teringat sewaktu pertama kali dia bercerita pada saya akan kecintaannya pada tempat tugasnya yang baru.

“Keren…. Dingin banget udaranya. Airnya juga manis Put. Teko airku setiap malam harus kututup rapat karena kalau nggak, besok pagi sudah dikerubungi semut. Dan yang paling penting, karena daerah ini tinggi, sinyalku lancar. Tunggu saja update blog terbaruku. BBMku pasti aktif selalu.”

Saya tersenyum mengingat percakapan sembilan bulan yang lalu. Desah kecewanya menarik saya kembali ke masa kini.

“Hanya karena aku tak punya kerabat siapapun di kantor cabang, atau aku tak pandai menjilat sana-sini, kinerjaku dan kepatuhanku tak dipandang sebagai nilai lebih di kantor ini. Aku kecewa berat.Tuhan memang tak adil”

“Nggak usah terlalu kecewa seperti itu.Apalagi sampai membawa-bawa nama Tuhan. Insya Allah pasti ada kok hikmah dibalik semua ini. Dan pasti akan ada balasan setimpal buat semua kerjamu selama ini.” nasihat saya bijak.

“Cih… aku nggak butuh balasan setimpal. Aku cuma butuh izin pulang. Hidup memang tidak adil.” katanya menutup percakapan kami.

Saya diam namun dalam hati berkata “Hidup memang tidak adil. Kalau hidup adil, nggak akan ada orang yang kecewa lalu memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri.” Bukan begitu???

pic taken from here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s