The Wind in the Willows

 Judul : The Wind in the Willows

Judul Saduran :  Embusan Angin di Pohon Dedalu

Pengarang : Kenneth Grahame

Penerbit : Mahda Books

Jumlah Halaman : 134 halaman

Kategori : Classic

ISBN : 9789797332640 


^^^^^^^^^

Terjual lebih dari 100 juta kopi, dan telah dicetak lebih dari 250 edisi dalam berbagai versi, The Wind in the Willows—pertama kali terbit tahun 1908—merupakan buku fabel terbaik sepanjang masa. Karya Kenneth Grahame ini tidak hanya bercerita mengenai petualangan seru, tetapi juga nilai-nilai persahabatan.

***

Kisah tentang persahabatan antara Tikus Tanah yang polos, Tikus Air yang sangat mencintai sungai, Luak yang bijaksana, serta Katak yang ceroboh. Di tepi sungai yang indah dan hutan belantara yang angker, kisah mereka terjalin dengan indah dan mendebarkan. 

^^^^^^^^^

Pada suatu siang di musim panas yang cerah, Molly si Tikus Tanah pergi meninggalkan sarangnya untuk berpetualang bersama Ratty si Tikus Air yang tinggal di tepi sungai dengan Berang-Berang sebagai tetangganya. Dengan perahu milik Tikus Air, mereka pun menyusuri keindahan tepi sungai. Saat sedang beristirahat untuk makan siang, mereka bertemu Berang-Berang dan Luak. Namun, Luak mengacuhkan ajakan mereka untuk bergabung bersama menikmati makan siang.

Keesokan harinya, Tikus Tanah dan Tikus Air berkeliling kota bersama Toady si Katak dengan menaiki kereta gipsi si Katak. Selain ingin mengajak teman-temannya menikmati suasana sore hari di kota, Katak juga bermaksud memamerkan kereta gipsi barunya. Pada saat jalan-jalan sore itu, Katak melihat mobil balap yang segera menarik perhatiannya. Perjalanan mereka berakhir ketika hari mulai gelap.

Waktu terus berlalu hingga musim panas kembali. Luak mengajak Tikus Air dan Tikus Tanah untuk bertemu Katak di Puri Katak. Mereka bermaksud ingin menyadarkan Katak yang selama ini selalu menyia-nyiakan peninggalan Ayahnya. Tapi Katak berhasil kabur dari pengawasan mereka. Dan… petulangan Katak pun dimulai bersama Tut-Tut, mobil balapnya.

Puri Katak, selama ditinggal Katak, segera dikuasai oleh para rase dan cerpelai yang menjaga Puri Katak dengan ketat. Mereka berpesta pora setiap malam di Puri Katak. Katak, yang baru saja kembali dari perjalanan panjang nan mendebarkan, sangat terkejut mendengar kabar itu. Dengan dibantu Luak, Tikus Tanah, Tikus Air, dan tak ketinggalan juga Berang-Berang mereka berusaha merebut Puri Katak dari para rase dan musang.

^^^^^^^^^

Serasa kembali ke masa lalu saat masih menggunakan seragam putih merah. Itulah perasaan saya saat membaca fabel ini. Sudah cukup lama memang saya tak menikmati membaca buku anak-anak yang memang dikategorikan untuk anak-anak. Sehingga saat ada rencana untuk baca bareng buku ini saya langsung memutuskan untuk ikut serta.

Sebagaimana fabel pada umumnya, tentu ada pelajaran hidup yang terselip di dalamnya. Pun begitu dengan cerita ini. Nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil dalam cerita ini antara lain :

Pengertian dan penghargaan terhadap sesama. Hal ini disampaikan Tikus Air kepada Tikus Tanah.

“Tupai-tupainya cukup menyenangkan. Dan para kelinci… beberapa. Lalu ada Luak. Luak tua yang baik! Tentu saja… ada yang lainnya. Rase… dan cerpelai… dan rubah. Mereka semua lumayan, dengan caranya sendiri, tapi kau tak bisa sepenuhnya percaya kepada mereka, dan begitulah kenyataannya.” (p. 11)

Ada banyak sifat makhluk hidup di dunia ini. Hal ini disampaikan dengan bijak oleh Luak.

“Mereka mengira akan bertahan selamanya… tapi sekarang sudah menjadi bagian Hutan Rimba. Manusia pergi, satwa-satwa pindah kemari… yang baik dan yang jahat. Di dunia selalu ada dua segi itu.” (p. 47)

Rumah, bukanlah sekedar tempat berteduh, namun ia adalah tempat setiap makhluk kembali dari perjalanan panjangnya. Hal ini dirasakan oleh Tikus Air.

“Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.

Sungai adalah tempat berpetualang.

Di sini adalah rumahnya.” (p. 57)

Selalu berpikir panjang sebelum bertindak agar tak menyesal dikemudian hari. Ibarat kata pepatah, sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna, Katak menyadari hal ini saat ia berada di dalam penjara.

“Katak-yang baru menyadari kalau dirinya berada dalam penjara-menghempaskan tubuh di lantai dengan air mata yang mengalir deras.

“Tamat sudah riwayatku,” ia meraung-raung. “Oh Katak yang sengsara dan terlunta-lunta!” (p. 78)

Makhluk hidup membutuhkan sesuatu kegiatan sebagai hobbinya untuk dijadikan ajang relaksasi dari himpitan hidup. Hal ini dilalukan oleh Tikus Air saat ia merasa hidupnya menjemukan.

“Tikus Tanah meletakkan sebatang pensil dan setengah halaman kertas kosong di atas meja, di depan sahabatnya.

Begitu Tikus Tanah mengintip lagi beberapa saat kemudian, Tikus Air sudah asyik mencorat-coret, sesekali mengigiti ujung pensil, dan tampak berpikir keras.” (p. 98)

Sahabat sejati adalah sahabat yang tetap selalu bersamamu disaat kau sedang bersedih hati. Tikus Tanah adalah sahabat sejati bagi Tikus Air. Dan Luak, Berang-Berang, Tikus Tanah dan Tikus Air adalah sahabat sejati bagi Katak.

“Tikus Tanah kini waspada. Ia menghalangi Tikus Air, menariknya ke dalam, dan memaksa Ratty duduk. Tikus Air berkomat-kamit tentang petualangan yang bebas dan aneh, kemudian tertidur pulas.

Tikus Tanah yakin bahwa sikap ganjil Tikus Air telah berakhir. Akal sehat temannya telah kembali, meskipun ia kelihatan lemah dan terpukul. Maka Tikus Tanah mulai membicarakan hal-hal lain. Ia membahas persoalan penting yang menyangkut rumah. Ia membicarakan bulan purnama yang telah muncul di atas lahan-lahan kosong dengan tumpukan gandum di atasnya.” (p. 97-98)

^^^^^^^^^

Fontsnya besar dengan ilustrasi apik yang menunjang isi cerita. Terjemahannya pun sungguh terasa nyaman di lidah. Sehingga anak-anak yang membaca cerita ini tak terlalu kesulitan mencerna isi cerita.

Bicara tentang cover… saya sangat suka cover terbitan Mahda Books. Hard cover dengan ilustrasi Tikus Tanah yang duduk di tepi sungai, Tikus Air yang duduk di atas perahunya yang tertambat di tepi sungai, Luak dengan kaki terendam ke dalam sungai, sambil mendengarkan cerita Katak dengan seringai angkuhnya. Dan tak lupa ada ranting-ranting pohon dedalu yang menaungi mereka semua dari teriknya matahari musim panas.

Ada  untuk persahabatan Tikus Tanah, Tikus Air, Luak, Katak dan tak lupa Berang-Berang.

^^^^^^^^^

Ah ya… buku ini pemberian teman saya sesama anggota Blogger Buku Indonesia, Dewi sang pemilik Through Tinted Glass.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s