Peronda Malam

Galau itu tak hanya terjadi pada manusia. Galau juga melanda sinyal. Waspadalah!!! (Putri Utama) 

Mengabdi di daerah terpencil memang membutuhkan banyak kesabaran. Entah itu karena jauhnya jarak. Entah itu karena karena seringnya listrik padam. Entah itu karena sulitnya mendapatkan bahan makanan yang kekota-kotaan. Entah itu karena kurangnya akses mendapatkan hiburan.

 Bicara tentang hiburan, manusia mana siy yang tak mengenal televisi. Berhubung di dua daerah penempatan, saya tak punya televisi, jelas saya tak tahu gosip terbaru dunia ini. Ya… nggak cuma gosip siy tapi semua hal yang terjadi di luar sono saya tak tahu. Contohnya ya… Waktu cewek-cewek pada heboh dengan yang namanya Irfan Bachdim, saya tu cuma tau kalau dia seorang pemain sepakbola. Saat itu saya berpikir kalau dia itu abangnya atau sepupunya Arumi Bachim. Secara, saya nggak tahu nama lengkapnya. Nggak cuma saya yang menderita sindrom tak mendapatkan berita. Seorang teman, baru tahu kalau Obama berkunjung ke Indonesia pas saat Obamanya mau pulang.  Oke… itu cerita jaman dulu. Jaman sekarang??? Tahu Andik Vermansyah??? Saya enggak.  Dan saya baru tahu yang namanya Andik Vermansyah itu kira-kira dua malam yang lalu sewaktu televisi di kamar petugas jaga menyiarkan pertandingan sepak bola antara Indonesia versus Singapura yang tanding di Brunei Darussalam.

 Televisi cuma ada di kamar petugas jaga. Jadi kalau saya mau nonton, ya saya harus permisi ke petugas yang sedang bertugas. Kalau laki-laki siy rada segan, soalnya ntar dianya segan sama saya trus ngilang deh entah ke mana. Giliran nanti ada pasien baru, kelimpungan dah saya nyariin dia. Kalau sama petugas perempuan, aduh… masalahnya saya nggak sepaham dengan mereka. Soalnya mereka pecinta berat sinetron Indonesia yang menurut saya banyakan lebay dan imajinasinya dibandingkan kenyataan.

 Jadi… satu-satunya sumber informasi saya saat ini adalah linimasa si burung biru. Ya twitter. Sungguh menyedihkan. Syukurnya ada menara telepon selular di dekat puskesmas saya. Tapi jangan berpikir hidup saya sudah senang sekarang. Namanya juga tinggal di daerah terpencil, kualitas sinyal pun hidup segan mati tak ikhlas. Ilang-ilang timbul. Istilah anak gahul jaman sekarang sinyalnya galau. Untuk sebuah postingan di blog ini saja atau di blog saya yang itu, saya membutuhkan kesabaran segede gunung Himalaya. Mau loginnya saja saya butuh waktu minimal 30 menit *nangis ampe air mata kering*

 Sinyal terutama pada siang hari terlalu padat. Sehingga lebih sering gagal daripada berhasil. Ganti provider??? Percayalah cuma ada dua provider yang ada di tempat saya. Dan kondisi yang satu lagi lebih parah dari yang saya gunakan. Minimal provider saya sinyalnya tak ikut padam jika listrik padam. Hingga akhirnya saya menemukan waktu yang tepat untuk mengubek-ubek dunia maya. TENGAH MALAM MENJELANG PAGI BUTA. Ya itulah waktu paling ideal bagi saya untuk bisa berselancar di ranah maya. Msekipun juga nggak semua website terbuka sempurna dan waktu untuk login sama saja yaitu minimal 30 menit, tapi angka keberhasilannya sedikit lebih tinggi dibandingkan angka kegagalannya. *jiah… macam penelitian aja ah…*

 Dan… pada akhirnya saya berniat menambahkan satu lagi tentang saya pada data pribadi saya. Peronda Malam Pencari Sinyal Non Galau.

gambar nyolong dari sana

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s