Indonesia Mengajar – Pengajar Muda

Judul : Indonesia Mengajar – Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri

Pengarang : Pengajar Muda

Penerbit : Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : 322 halaman

Kategori : Motivasi Diri

“Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. ” (Indonesia Mengajar – p. 294)

Sinopsis

Ini negeri besar dan akan lebih besar . Mengeluh dan mengecam tidak akan mengubah sesuatu. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu, Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.

Pendidikan, masih saja menjadi barang mahal di tanah saudara-saudara kita yang jauh dari pusat. Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang kurang memadai, jarak yang jauh dan terjal, kurangnya tenaga pengajar, dan masalah-masalah lain masih saja terjadi.

Lalu, bagaimana ceritanya kalau anak-anak muda, generasi penerus bangsa ini tergerak hatinya. Mereka adalah 51 Pengajar Muda yang terpilih dari 1.383 calon. Mereka rela meninggalkan kenyamanan kota dan jauh dari keluarga untuk mengabdi di pedalaman, sebagai guru. Mereka berusaha melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tak sekadar mengajar baca tulis hitung, mereka juga mengajar banyak nilai-nilai kebaikan, pun gantian belajar pada masyarakat asli.

Buku ini menceritakan kisah para Pengajar Muda yang ditempatkan di beberapa pelosok negeri. Kesulitan, kebahagian, tangis, dan tawa mewarnai kisah mereka. Buku ini juga menunjukkan seperti apa wajah pendidikan negeri ini. Apa benar ada kebiasaan guru memukul muridnya dengan rotan? Apa benar guru-guru jarang datang ke sekolah, terutama saat hujan deras?

Nikmati seluruh kisah mengharukan itu di buku ini!

Rating
untuk para Pengajar Muda dan Indonesia Mengajar demi Indonesia yang jauh lebih baik lagi

Review

Ini adalah buku pertama yang saya selesaikan di tahun 2012 ini dengan kesimpulan akhir yang tidak terlalu mengecewakan…

Apa yang terjadi bila sekelompok anak muda dengan masa depan cerah, pekerjaan dengan gaji menggiurkan, tinggal di kota besar, terbiasa dengan fasilitas perkotaan tiba-tiba memilih jalan untuk mengabdi menjadi seorang pengajar di daerah terpencil dan sangat terpencil di beberapa kabupaten di Indonesia yang dengan segala ketertinggalan dan keterbatasannya dengan satu niat mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka Indonesia Mengajar dan Pengajar Muda adalah jawaban dari pertanyaan itu.

Buku ini memang berisi kumpulan cerita dari para Pengajar Muda. Meskipun ada banyak orang yang memandang buku ini sebagai buku yang hanya berisi sekumpulan cerita dari para Pengajar Muda yang bercerita tentang kehebatan anak didik mereka tanpa ada cerita tentang visi misi ataupun penjabaran secara mendetail tentang apa yang mereka kerjakan selama setahun menjadi Pengajar Muda, ataupun bagaimana kondisi sesungguhnya pendidikan di daerah terpencil dan sangat terpencil di Indonesia.

“Terlalu sedikit ceritanya.”
“Tidak tuntas mengupas hal yang ada.”
“A very booring book.”
“Saya mengharapkan adanya pemaparan fakta tentang kondisi bagaimana keadaan pendidikan di daerah terpencil Indonesia.”
Itulah sebagian kesimpulan yang saya dengar dan baca.

Namun bagi saya, singkatnya cerita-cerita yang ada di buku ini yang diambil dari blog Indonesia Mengajar, justru menjadi bukti konkrit bagaimana keadaan mereka di lapangan. Bagaimana mungkin??? Ya… untuk bisa menerbitkan selembar postingan di blog mereka harus menempuh perjalanan darat atau laut menuju kota karena sinyal GSM di tempat mereka. Lantas ketika sinyal sudah muncul di layar laptop atau telepon seluler, coba pikirkan kecepatan untuk mengupload atau mendownloadnya. Jangan-jangan hanya untuk membuka satu halaman web saja harus menunggu dalam hitungan jam dan halaman yang dibuka berulang kali mengalami kegagalan.

Tentang kehebatan anak murid mereka? “Ah nggak terlalu hebat kok. Biasa aja. Banyak kok anak-anak yang seperti itu.” Hei… ayo lihat lebih dalam lagi. Anak-anak itu bukan seperti anak-anak yang ada di perkotaan dengan segala akses untuk mendapatkan pendidikan terbuka lebar. Mau les bahasa Inggris? Oke. Nggak berapa pinter dalam pelajaran Matematika? Les privat bertebaran di sepenjuru kota. Tapi bagaimana dengan kondisi anak-anak di pedalaman? Yang jangankan mendapatkan les ekstrakulikuler, buku teks saja terkadang tak punya. Kalaupun ada disediakan sekolah, itupun hanya boleh dipakai di sekolah, tidak untuk dibawa pulang ke rumah. Yang dengan sedikitnya tenaga pengajar dan ruang kelas yang tersedia, mereka harus berbagi kelas, berbagi guru, berbagi pelajaran. Yang jangankan naik mobil atau motor ke sekolah dengan jalanan mulus, ada sampan ataupun motor yang bisa ditumpangi saja sudah cukup bersyukur agar sampai di sekolah. Bila tidak ada, ya jalan kaki. Syukur-syukur jalanan tak becek karena hujan, kalau hujan ya… jalan di atas kubangan lumpur. Bisakah dengan kondisi mereka yang seperti itu mereka dikatakan anak-anak yang biasa saja?

A very booring book dan dengan pengharapan mendapatkan fakta terkini kondisi pendidikan di wilayah terpencil… Tak cukupkah melalui sepotong cerita mereka imajinasi kita membentuk suatu gambaran tentang keadaan yang mereka ceritakan? Tak cukupkah setiap jelang ulangtahun negara ini dan setiap hari peringatan pendidikan nasional kita dipaparkan oleh televisi, koran, majalah tentang anak-anak SD yang harus menyebrang diatas seutas tali dengan arus sungai deras mengalir di bawahnya untuk dapat pergi ke sekolah, tentang anak-anak SD yang berlajar berdesak-desakan di dalam kelas karena kelas yang lain sudah rusak atau sudah roboh sama sekali, tentang anak-anak SD yang lebih memilih untuk membantu orangtuanya daripada duduk dikelas mendengarkan pelajaran? Belumkah itu semua cukup menyampaikan gamabaran bagaimana wajah pendidikan kita?

Tanpa bermaksud untuk mengatakan buku ini sempurna. Toh, jujur saja, memang ada beberapa cerita yang membosankan dan sepertinya hanya memaparkan keinginan dan tekad dari penulisnya. Di beberapa cerita yang lain sepertinya endingnya pun menggantung. Hanya tentang anak-anak yang hebat. Namun sebenarnya justru dengan kekurangan tersebut yang membuat kita bertanya-tanya akan jadi apakah anak-anak hebat itu jika sampai beberapa puluh tahun lagi mereka tetap tak tersentuh tangan pemerintah, buku ini layak untuk dibaca.

Rating 5 smiley yang saya berikan pun bukan ditujukan untuk buku ini secara keseluruhan yang bila saya lihat dari segi isi buku mungkin hanya saya beri rating 3,5 atau 4 smiley tapi rating ini lebih saya tujukan sebagai apresiasi saya terhadap gerakan Indonesia Mengajar dan para Pengajar Muda serta para calon-calon Pengajar Muda lainnya, dan mereka-mereka yang lebih memilih untuk mengabdi di daerah terpencil dan sangat terpencil dengan segala keterbatasannya.

Silahkan memilih… Berpangku tangan dan mengutuk kegelapan ataukah bangkit dan menyalakan lilin walau hanya sebatang lilin yang dimiliki…

Oh… jika ingin tahu tentang Gerakan Indonesia Mengajar dan Pengajar Muda silahkan klik Indonesia Mengajar


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s