Rahasia Hati

 

 

Dear Desi…

Hai…. aku nggak tau mau bilang apa…. tapi yang pasti kali ini aku cuma ingin bercerita…. Jika kau ingin mengomentari bahkan memarahiku, lakukanlah. Aku terima kok. Hanya saja…. tolong lakukan nanti, ketika waktu tidur delapan belas jamku terpenuhi, agar semua komentarmu dapat kuterima dengan pikiran jernih dan kujawab dengan akal sehatku…

Oke…. kau pasti hapal dengan kesibukanku selama tiga tahun belakangan ini, semenjak menjadi calon dokter spesialis Obgyn. Kemarin, saat aku sedang standby di RS untuk tugas jaga sore hingga keesokan paginya, ketika sore akan berganti malam, keadaan di RS benar-benar ramai. Aku selalu bingung melihat para pengunjung RS di malam minggu. Kenapa mereka begitu senangnya membawa anak-anak mereka ke RS saat menjenguk saudara dan handai taulannya yang sedang dirawat di RS. Apa mereka tidak pernah takut akan penyebaran kuman yang ada di RS??? Ah, entahlah. Lebih baik aku kembali menekuni tugasku yang menumpuk itu.

Sore menjelang malam juga aku kedatangan seorang pasien. Ibu hamil berumur 28 tahun dengan status G1P0Ab0 dan TTP yang telah lewat bulan. Sebut saja namanya Yeni. Pemeriksaanku menunjukkan perubahan air ketuban yang menjadi kehijauan. Harus segera dilakukan SC agar janin dalam kandungannya selamat. Kudatangi tempat tidur Yeni, kujelaskan tentang semua keadaannya dan janinnya. Sesaat dia panik. Namun kugenggam tangannya, menenangkannya, dan dia pun tenang kembali. Dia meminta agar diberi waktu untuk berunding dulu dengan suaminya yang sekarang dalam perjalanan menuju RS. Kusetujui permintaannya dan aku pun kembali ke ruanganku.

Setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintu ruanganku. Aku menengadahkan kepala dan melihat bidan yang bertugas berdiri di depan pintu. “Maaf Dok, suami bu Yeni sudah datang.”  Aku beranjak dari tempat dudukku dan melangkah menuju ruang VK. Kulihat ada seorang laki-laki sedang mengenggam erat tangan Yeni. Pasti itu suaminya. Kusela mereka dengan sapaan “Assalamu’alaikum” khas RS ini. Yani tersenyum memandangku seraya berkata “ini Dok, suami saya sudah datang.” Suami membalikkan badan dan tersenyum kepadaku.

Kujelaskan kondisi Yeni dan janin mereka. Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, Yeni tetap ingin melahirkan secara normal. Menurutnya jika tak melahirkan secara normal maka tak bisa disebut sebagai ibu sejati. Aku heran dari mana Yeni mendapatkan pemikiran itu. Lalu apa namanya bagi ibu-ibu yang memang tak bisa melahirkan secara normal harus melahirkan secara operasi? Lalu apa julukannya bagi ibu-ibu yang melahirkan secara normal lalu membuang bahkan membunuh bayi yang telah dilahirkannya? Lalu apa sebutannya bagi ibu-ibu yang tidak dapat memiliki anak lalu mengadopsi anak orang lain? Ya sudahlah. Aku hanya bisa memberi saran sesuai kapasitasku sebagai dokter, namun keputusan akhir tetaplah ditangan mereka sebagai hak pasien.

Menjelang jam dua pagi Yeni mengeluh kontraksi rahimnya semakin sering dan kuat. Pembukaannya pun sudah lengkap. Aku segera memimpin persalinan dibantu bidan yang bertugas. Syukurlah, sebagai wanita yang pertama kali melahirkan Yeni mampu mengikuti instruksi yang kuberikan, meskipun berkali-kali ia tampak tak kuat lagi. Mungkin kehadiran suaminya memberi andil besar pada persalinan ini. Jam dua lewat dua puluh lima menit, lahirlah seorang bayi perempuan.

Ah Des, tentu kau tahu mengapa aku memilih spesialisasi ini. Ada kebahagiaan dan rasa syukur tak terucapkan ketika setiap memimpin persalinan, tangankulah yang pertama kali menyentuh badan-badan mungil itu. Menyaksikan bagaimana mereka berjuang menghirup nafas pertamanya selalu berhasil membuatku meneteskan air mata. Pun begitu juga di persalinan kali ini. Untunglah tak ada kelainan apa pun pada bayi tersebut seperti yang kukhawatirkan pada saat pemeriksaan awal sore tadi. Tangisannya kuat, badannya merah, geraknya pun aktif. Dengan tangan yang gemetar dan wajah yang bersimbah air mata, suami Yeni menghitung jumlah jari-jemari tangan kaki bayi mereka lantas kemudian meniqomatkan bayi mereka. Ruang VK yang tadinya tegang oleh suasana persalinan mendadak hening dan syahdu saat suara serak Rizal, suami Yeni, bergema di ruangan ini. Aku terpaku mendengar lantunan indah itu.

Namun, proses persalinan yang belum selesai menarikku kembali pada realita. Ternyata, plasenta sang bayi tak mau keluar utuh. Masih ada yang tertinggal di dalam rahim ibunya. Sementara perdarahan semakin deras karena tertahannya plasenta tersebut. Butuh waktu setengah jam untuk mengeluarkan plasenta itu secara manual dan utuh, Yeni pun jatuh dalam keadaan shock akibat banyaknya darah yang keluar. Segera kularikan Yeni ke ruang ICU. Raut khawatir tergambar jelas di wajah Rizal yang sempat terlihatku saat aku ikut juga berlari ke ICU. Dia sempat berterima kasih saat satu jam kemudian aku berjalan keluar ruang ICU kembali menuju VK.

Ceritaku ini jelas bukan cerita baru bagimu. Meskipun kau tidak menekuni bidang spesialisasi yang kupilih, namun kejadian seperti ini pasti pernah kau alami saat kita sama-sama menjalani pendidikan profesi dokter beberapa tahun silam. Dan kau pun pasti bertanya-tanya untuk apa aku menceritakan hal seperti ini kepadamu. Ya Des… ada satu hal yang kusembunyikan padamu berkaitan dengan pasienku ini.

Rizal. Nama yang umum bukan? Tapi, apakah kau ingat bahwa lima tahun yang lalu ada gosip yang beredar di kalangan teman-teman sependidikan profesi kita yang mengatakan bahwa aku sedang dekat dengan seorang pria bernama Rizal. Rizal yang sampai saat ini menjadi misteri buatmu karena aku tak pernah menyanggah ataupun mengiyakan gosip itu. Ya… Rizal yang dulu itu adalah Rizal yang sekarang menjadi suami pasienku.

Jujur, aku tak tahu bagaimana bisa begitu tenang memimpin proses persalinan itu ketika aku menyadari bahwa orang yang dulu pernah begitu dekat denganku kini aku harus berpura-pura tak mengenalnya. Aku pun tak tahu bagaimana bisa begitu lancar memandu proses persalinan itu saat kenangan tentangnya terus menerus membanjiri ingatanku, sementara pada kenyataannya seluruh tubuhku merasa gemetar karena berada di dekatnya. Aku juga tak tahu bagaimana aku bisa tersenyum menyemangati Yeni dalam proses persalinannya saat seharusnya hatiku perih melihatnya mengenggam erat tangan istrinya, mendengarnya membujuk istrinya ketika mulai kelelahan menghadapi proses persalinan.

Lima tahun berlalu dan aku masih belum bisa melupakannya. Kupikir semua perasaan tersebut akan hilang seiring dengan berjalannya waktu dan kepindahanku ke kota yang sama sekali asing bagiku ini akan membantu melupakannya. Entahlah Des. Bagiku aku tak bisa melupakannya. Yang bisa kulakukan hanyalah membiarkan dia tetap berada di hati dan pikiranku sementara aku membuka hati dan pikiranku bagi lain disisi lain hati dan pikiranku.

Aku masih menduga-duga bagaimana perasaanmu saat mengetahui kelanjutan ceritaku ini. Apakah kau tersinggung, marah ataukah sudah bersikap masa  bodoh saat kukatakan bahwa Rizal yang menjadi suami pasienku adalah Rizal yang lima tahun yang lalu pernah memintaku menjadi istrinya namun kutolak dengan perasaan hancur karena aku tahu bahwa kau masih sangat mencintai Rizal, mantan kekasihmu, dulu lima tahun yang lalu hingga saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s