9 Summers, 10 Auntumns

Impian haruslah menyala dengan apa pun yang kita miliki, meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak.” (Iwan Setyawan – halaman 21)

Kebiasaan saya yang berhubungan dengan membaca adalah, saya tidak suka membeli sebuah buku pada saat buku tersebut sedang booming. Rasanya tidak terlalu mengasikkan membaca buku di saat orang lain pun sedang heboh membacanya. Aneh memang. Tapi ya itulah saya.

Kali ini saya ingin membahas tentang 9 Summers 10 Auntumns-nya Iwan Setyawan.  Saya tidak meresensi buku ini. Karena telah banyak orang hebat yang telah melakukannya. Sementara saya, bukanlah siapa-siapa.  Beberapa orang bilang, buku ini bukan buku tentang mimpi, tapi tentang kerja keras. Bagi saya, buku ini tentang mimpi. Tapi mimpi yang diwujudkan dengan kerja keras. Iwan Setyawan boleh bilang kalau mimpi-mimpinya hanya sampai atap rumahnya. Tapi bagi saya mimpi itu tetap tersimpan walau terhalang atap rumah.

 Membaca buku ini seperti melihat potret nyata kehidupan di Indonesia. Anak-anak Indonesia yang cerdas penuh cita-cita namun terhadang oleh kenyataan pahit keuangan orangtua yang kurang mendukung. Buku pun ini seperti menjadi sebuah pencerahan bagi saya. Mengapa? Karena saat dan setelah membaca buku ini saya jadi kembali punya keyakinan diri bahwa siapa pun bisa menjadi orang hebat, siapa pun bisa sekolah setinggi-tingginya.

Buku ini pun seperti “menegur” kita yang sekarang ini sering begitu membanggakan sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan sekolah di luar negeri, bahwa sekolah dalam negeri pun mampu mencetak lulusan berkualitas.  Selain itu buku ini juga menegaskan sehebat apapun sekolah-sekolah itu, tetap “sekolah” pertama yang akan mencetak seseorang menjadi orang hebat adalah keluarga. Kita sering melupakan bagaimana pentingnya keluarga dalam perjalanan hidup seorang anak.

Buku ini juga menjadi sebuah contoh nyata akan arti di dalam lirik-lirik lagu nasional “Tanah Air”. Tentu kita masih ingat ada salahsatu liriknya yang berbunyi “Walaupun banyak negri kujalani. Yang masyhur permai dikata orang. Tetapi kampung dan rumahku. Di sanalah kurasa senang.” Ya, tertulis jelas di buku ini berapa banyak tempat yang telah dikunjungi oleh Iwan Setyawan. Dan berapa lama dirinya telah bermukim di negeri Paman Sam itu, namun pada satu titik dia merasa cukup dan meninggalkan New York. Meninggalkan The Big Apple dengan seluruh keriuhan dan sukacitanya untuk kembali ke Kota Apel yang nyaman dan bersahaja.

Bagi saya, buku ini wajib untuk dibaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s