Thanks God

Hanya ingin berterima kasih kepada-Nya…

Thanks God,

untuk mengizinkan jantungku berdetak,

untuk mengizinkan paru-paruku mengembang,

untuk mengizinkan hidungku menghirup Oksigen, 

sejak awal kelahiranku hingga kini.

Continue reading

Advertisements

Rahasia Itu

“Kamu nggak salah???” perempuan itu berbisik.

Lelaki di seberang meja itu hanya tersenyum. “Percayalah, aku nggak salah.”

“Kamu yakin???”  bisiknya lagi.

Lagi-lagi lelaki itu hanya tersenyum. “Percayalah, aku yakin.”

Continue reading

Antara Sabar, Gaji dan Ramadhan

Tadi pagi saat membaca postingannya mas Belukar tentang kesabaran saya memberi komentar kalau saya saat ini tetap sabar menunggu gaji saya yang tidak kunjung keluar hingga setahun 😦 😦 

Namanya juga Pegawai Tidak Tentu, ya apa-apa tidak tentu, termasuk tidak tentu kapan gajiannya. Seperti saya, walaupun saya bekerja selama 12 bulan tapi gaji yang dibayarkan hanya 11 bulan. Kabar yang beredar di kalangan teman-teman saya adalah suatu kemakluman kalau kami tidak mendapat gaji pertama. Kalau itu terjadi di seluruh Indonesia sih, saya bisa ikutan ikhlas, tapi ini??? cuma terjadi di kabupaten saya saja. Akhirnya setelah mendesak dinas terkait maka pengamprahan gaji pertama saya dan teman pun baru dilakukan setelah empat atau lima bulan kemudian. Alhasil, kemarin sewaktu resign saya hanya mendapat 11 bulan gaji. Teman-teman saya selalu berkata untuk mengikhlaskan saja gaji pertama saya. Bagi saya, ya nggak bisa dong. Secara, udah capek-capek kerja tapi kok ya gaji pertama ditahan. Kalau tadi judulnya kerja sukarela, nah itu, baru ikhlas nggak digaji. Nah yang ini, gaji itu memang ada, kok nggak nyampe ke penerimanya.

Menjelang siang, teman saya menelfon dan memberi kabar kalau ada sejumlah uang di rekening gajinya dan meminta saya untuk juga mengecek rekening gaji saya. Dengan berbekal ketidakyakinan hati akan gaji yang mungkin tidak akan pernah keluar dan ditemani panas teriknya kota Medan, saya pun berangkat menuju Kantor Pos Besar Medan. Di sana, Alhamdulillah si kakak penjaga loket berkata ada uang di rekening gaji saya yang seharusnya kosong. Yah… Alhamdulillah berarti ada sedikit rejeki buat Lebaran nanti. 

Setelah gaji keluar dan berhubung bulan ini bulan Ramadhan yang Insya Allah penuh berkah bagi kita semua, yang harus dilakukan pertama adalah menghitung zakat penghasilan sebesar 2,5%. Mengenai zakat yang satu ini, ibu saya setiap tahun selalu berkata

“Insya Allah, zakat yang dikeluarkan bisa membawa berkah buatmu. Uang atau gaji itu bukan masalah banyak atau sedikit. Tapi masalah berkahnya. Berapa banyak orang yang punya gaji besar tapi terkadang dia sendiri pun nggak tahu gajinya habis kemana. Itu artinya gajinya mungkin nggak berkah. Salah satu cara supaya gaji kita berkah, ya dikeluarkanlah zakatnya.”

 Supaya si penerima zakat merasakan zakat yang diberikan, saya membayar zakat penghasilan saya sekali setahun. Agar gampang, zakat itu dikeluarkan setiap Ramadhan. Entah itu termasuk berkah atau tidak tapi saya merasakan manfaat dari membayar zakat. Ramadhan dua tahun yang lalu, saat saya baru pertama kali bekerja, saat gaji saya sekian ratus ribu, ibu saya sudah mengingatkan tentang zakat. Alhamdulillah, selang diawal tahun 2010 saya mendapat pekerjaan baru, sehingga saya bisa bekerja di dua tempat. Otomatis, gaji saya pun bertambah.

Beberapa bulan bekerja di dua tempat, keluarlah pengumuman penerimaan Pegawai Tidak Tentu di situs “favorit” saya. Alhamdulillah, saya lolos penerimaan itu. Nominal gaji saya pun bertambah. Setelah Ramadhan tahun lalu, gaji saya naik tanpa saya duga. Sebenarnya kenaikan gaji itu sudah pernah diberitahukan sewaktu pembekalan di awal kerja. Tapi, pemberitahuan itu juga disertai dengan pemberitahuan ketidakpastian kapan kenaikan gaji itu karena masih dalam tahap pembicaraan pihak terkait dengan si Ibu

Dan, Ramadhan tahun ini, saat saya sudah mulai menghitung-hitung zakat yang mesti saya keluarkan, terjadilah hal yang tidak saya duga. Semoga… di Ramadhan kali ini, masih ada kejutan menyenangkan buat saya.

Dokter, antara Gengsi dan Kewajiban

“Kata bos cewekku dimana harga diri dan martabat seorang dokter kalau dia nyuci piring atau nyapu???

Jangan langsung marah, sinis, atau ngedumel nggak jelas waktu kamu membaca kalimat di atas. Kalimat itu bukanlah kalimat saya. Kalimat itu meluncur deras dari mulut seorang teman saya.

“Emangnya apa hebatnya sih jadi dokter itu???” *coba itu yang merasa dirinya dokter yang hebat tunjuk tangan* 😀

Continue reading

Doa di Sore Hari

Sore, kira-kira di awal bulan Juli lalu waktu saya lagi asyik menyapu (pembantu MODE ON) halaman depan rumah, tiba-tiba ada ibu tua muncul meminta sedekah pada saya. Berhubung di kantong celana adanya cuma uang receh, hanya uang itu yang saya kasih, karena untuk lari ke dalam rumah buat mengambil uang lebih saya males. Lemas soalnya. Saya nggak tau berapa banyak yang saya kasih ke beliau. Yang ada dipikiran saya saat itu hanya kasih uang supaya ibu itu cepat pergi dan saya cepat menyelesaikan pekerjaan saya.

Continue reading